BADAN KEPEGAWAIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Pusat Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau "Istana Kota Piring"
Gedung Sultan Mahmud Riayat Syah (Gedung C1 Lantai 2 dan Lantai 3) Pulau Dompak
Tanjungpinang, Kepulauan Riau 29124

E-mail : bkpp.kepriprov@gmail.com

Top Panel
  • Ditayangkan: Selasa, 08 Agustus 2017 09:03
  • Ditulis oleh Administrator (LM)
  • Dilihat: 493
  • 08 Agu

KEWENANGAN PEMBERHENTIAN, PEMBERHENTIAN SEMENTARA, DAN PENGAKTIFAN KEMBALI

     
1. KEWENANGAN PEMBERHENTIAN
  Presiden menetapkan pemberhentian PNS di lingkungan Instansi Pusat dan PNS di lingkungan Instansi Daerah yang menduduki JPT utama, JPT madya, dan JF ahli utama.
  1. Presiden dapat mendelegasikan kewenangan pemberhentian PNS selain yang menduduki JPT utama, JPT madya, dan JF ahli utama kepada:
    a. menteri di kementerian;
    b. pimpinan lembaga di lembaga pemerintah nonkementerian;
    c. sekretaris jenderal di sekretariat lembaga negara dan lembaga nonstruktural;
    d. gubernur di provinsi; dan
    e. bupati/walikota di kabupaten/kota.
  2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a termasuk:
    a. Jaksa Agung; dan
    b.  Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.
  3. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b termasuk:
    a Kepala Badan Intelejen Negara; dan
    b. pejabat lain yang ditentukan oleh Presiden.
  4. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c termasuk juga Sekretaris Mahkamah Agung.
       
  *

PPK Pusat menetapkan pemberhentian terhadap:

    a. calon PNS yang tidak memenuhi syarat untuk diangkat menjadi PNS di lingkungannya; dan
    b. PNS yang menduduki:
      1. JPT pratama;
      2. JA;
      3. JF ahli madya, JF ahli muda, dan JF ahli pertama; dan
      4. JF penyelia, JF mahir, JF terampil, dan JF pemula.
       
  *

PPK Instansi Daerah provinsi menetapkan pemberhentian terhadap:

    a. calon PNS yang tidak memenuhi syarat untuk diangkat menjadi PNS di lingkungannya; dan
    b. PNS yang menduduki:
      1. JPT pratama;
      2. JA;
      3. JF ahli madya, JF ahli muda, dan JF ahli pertama; dan
      4. JF penyelia, JF mahir, JF terampil, dan JF pemula.
       
  *

PPK Instansi Daerah kabupaten/kota menetapkan pemberhentian terhadap:

    a. calon PNS yang tidak memenuhi syarat untuk diangkat menjadi PNS di lingkungannya; dan
    b. PNS yang menduduki:
      1. JPT pratama;
      2. JA;
      3. JF ahli madya, JF ahli muda, dan JF ahli pertama; dan
      4. JF penyelia, JF mahir, JF terampil, dan JF pemula.
       
2.

KEWENANGAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA DAN PENGAKTIFAN KEMBALI

  1. Presiden menetapkan pemberhentian sementara PNS di lingkungan Instansi Pusat dan PNS di lingkungan Instansi Daerah yang menduduki JPT utama, JPT madya, dan JF ahli utama.
  2. Presiden dapat mendelegasikan kewenangan pemberhentian sementara PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada PPK, selain PNS di lingkungan Instansi Pusat dan PNS di lingkungan Instansi Daerah yang menduduki:
    a. JPT Pratama;
    b. JA;
    c. JF ahli madya, JF ahli muda, dan JF ahli pertama; dan
    d. JF penyelia, JF mahir, JF terampil, dan JF pemula.
       
 

Presiden atau PPK menetapkan pengaktifan kembali PNS yang diberhentikan sementara di lingkungan Instansi Pusat dan PNS di lingkungan Instansi Daerah.

       
3.

HAK KEPEGAWAIAN BAGI PNS YANG DIBERHENTIKA

 

PNS yang diberhentikan dengan hormat, diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri, dan diberhentikan tidak dengan hormat diberikan hak kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.